Entah apa salah umat manusia pada tahun 2019 dengan “diberkahi” tahun 2020 yang belum setengah nya saja sudah buat kita geleng-geleng kepala. Tahun 2020 yang mungkin sebagian besar manusia menaruh harapan, perubahan, atau bahkan minimal sama dengan tahun-tahun sebelumnya malah menjadi tahun yang menawarkan sebuah momen yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apabila sebelumnya masalah dunia cenderung berkisar antara konflik sesama umat manusia, tahun ini bisa dibilang umat manusia dihadapkan konflik antar spesies. Bukan konflik akibat invasi hewan liar atau bahkan makhluk luar angkasa, justru dari makhluk yang sedari awal hidup bersama-sama dengan manusia tapi terabaikan, virus...
Entah, kebetulan atau tidak, “konflik” ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Kita sebagai umat manusia yang bebal dan memang harus “kena dulu baru mikir” seharusnya memiliki prosedur pencegahan yang baik apabila terjadi fenomena seperti ini, dilihat dari pengalaman generasi umat manusia sebelumnya yang sudah pernah melewati wabah penyakit akibat virus atau makhluk mikroba lainnya. Kini, rasanya untuk cari penyebab nya sudah tidak relevan dilihat dari keadaan yang sudah mewabah saat ini.
Covid-19, begitu mereka menyebutnya. Virus yang muncul dari sebuah wilayah China daratan kini berubah menjadi sebuah sebuah fenomena unik nan mengerikan dilihat dari cara hidupnya yang menjadikan manusia sebagai inang selain hewan. Virus yang berkoloni di dalam saluran pernapasan manusia seketika menjadikan tempat inang nya tak berdaya, meskipun dalam beberapa kasus tak bergejala. Meskipun begitu, pengaruhnya makhluk kecil ini tidak bisa disamakan dengan ukurannya. Bayangkan, tidak hanya merusak kesehatan seseorang yang mereka jadikan inang, tetapi perekonomian suatu negara porak-poranda akibat pengaruh tidak langsungnya itu. Yang sudah sangat pasti, kehidupan manusia sejak saat itu tanpa disadari mulai berbeda.
Kini, sekedar bersosialisasi saja terkesan sudah haram hukumnya. Bukan dilarang sama sekali, tetapi bayangkan untuk ketemu teman kantor saja di kantor sudah dibatasi. Belum lagi sanak famili yang tidak satu rumah dilarang untuk bertemu. Sebenarnya bisa saja sebagai penawar rindu dengan telepon atau dengan sarana komunikasi lainnya, tapi rasanya kurang afdol saja di suasana ramadhan, saat tulisan ini dibuat, tidak bisa bersua. Ramadhan tahun ini, sungguh rasanya tidak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Bahkan sebenarnya bisa dibilang sangat berbeda juga, sih.
Saya sendiri menyayangkan kondisi seperti ini. Tak terbayangkan sebelumnya fenomena yang sebenarnya jadi bahan olok-olokan beberapa orang saat masih baru mewabah di china begitu ganas menyerang seluruh wilayah di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sedihnya, puncak wabah ini di Indonesia muncul di saat suasana Ramadhan menjelang lebaran yang seharusnya beberapa orang melepas rindu justru terbebani dengan ruang gerak yang dibatasi. Balik lagi, saya tidak habis pikir kenapa wabah ini muncul di kondisi yang beberapa orang mungkin menunggu momen-momen seperti ini.
Kompromi dengan keadaan, rasanya hal ini yang paling mungkin bisa kita lakukan khususnya bagi saya pribadi. Momen ramadhan dan lebaran yang paling saya tunggu rasanya sudah tidak se-spesial tahun-tahun sebelumnya. Jujur, sesak sekali memikirkan hal-hal yang sebenarnya lumrah dilakukan pada waktu-waktu seperti ini tetapi terpenjara akibat pagebluk yang ujungnya belum kelihatan. Kini ada dua opsi yang bisa saya lakukan: bandel merealisasikan imajinasi hajat saya atau berdiam diri berharap kondisi seperti ini lekas berakhir...
Entah, kebetulan atau tidak, “konflik” ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Kita sebagai umat manusia yang bebal dan memang harus “kena dulu baru mikir” seharusnya memiliki prosedur pencegahan yang baik apabila terjadi fenomena seperti ini, dilihat dari pengalaman generasi umat manusia sebelumnya yang sudah pernah melewati wabah penyakit akibat virus atau makhluk mikroba lainnya. Kini, rasanya untuk cari penyebab nya sudah tidak relevan dilihat dari keadaan yang sudah mewabah saat ini.
Covid-19, begitu mereka menyebutnya. Virus yang muncul dari sebuah wilayah China daratan kini berubah menjadi sebuah sebuah fenomena unik nan mengerikan dilihat dari cara hidupnya yang menjadikan manusia sebagai inang selain hewan. Virus yang berkoloni di dalam saluran pernapasan manusia seketika menjadikan tempat inang nya tak berdaya, meskipun dalam beberapa kasus tak bergejala. Meskipun begitu, pengaruhnya makhluk kecil ini tidak bisa disamakan dengan ukurannya. Bayangkan, tidak hanya merusak kesehatan seseorang yang mereka jadikan inang, tetapi perekonomian suatu negara porak-poranda akibat pengaruh tidak langsungnya itu. Yang sudah sangat pasti, kehidupan manusia sejak saat itu tanpa disadari mulai berbeda.
Kini, sekedar bersosialisasi saja terkesan sudah haram hukumnya. Bukan dilarang sama sekali, tetapi bayangkan untuk ketemu teman kantor saja di kantor sudah dibatasi. Belum lagi sanak famili yang tidak satu rumah dilarang untuk bertemu. Sebenarnya bisa saja sebagai penawar rindu dengan telepon atau dengan sarana komunikasi lainnya, tapi rasanya kurang afdol saja di suasana ramadhan, saat tulisan ini dibuat, tidak bisa bersua. Ramadhan tahun ini, sungguh rasanya tidak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Bahkan sebenarnya bisa dibilang sangat berbeda juga, sih.
Saya sendiri menyayangkan kondisi seperti ini. Tak terbayangkan sebelumnya fenomena yang sebenarnya jadi bahan olok-olokan beberapa orang saat masih baru mewabah di china begitu ganas menyerang seluruh wilayah di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sedihnya, puncak wabah ini di Indonesia muncul di saat suasana Ramadhan menjelang lebaran yang seharusnya beberapa orang melepas rindu justru terbebani dengan ruang gerak yang dibatasi. Balik lagi, saya tidak habis pikir kenapa wabah ini muncul di kondisi yang beberapa orang mungkin menunggu momen-momen seperti ini.
Kompromi dengan keadaan, rasanya hal ini yang paling mungkin bisa kita lakukan khususnya bagi saya pribadi. Momen ramadhan dan lebaran yang paling saya tunggu rasanya sudah tidak se-spesial tahun-tahun sebelumnya. Jujur, sesak sekali memikirkan hal-hal yang sebenarnya lumrah dilakukan pada waktu-waktu seperti ini tetapi terpenjara akibat pagebluk yang ujungnya belum kelihatan. Kini ada dua opsi yang bisa saya lakukan: bandel merealisasikan imajinasi hajat saya atau berdiam diri berharap kondisi seperti ini lekas berakhir...
Komentar
Posting Komentar